This is defaulton ma i featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 23 Oktober 2015

Terungkap di Persidangan Kasus Korupsi Alkes Perusahaan Milik Nazaruddin Beri Uang Rp2,3 Miliar Kepaa Panitia Pengadaan Alkes RSU H Adam Malik Buat Dibagi-bagi


Jumat, 23 Oktober 2015 | 12:00:41
Medan (SIB)- Direktur PT Mahkota, Marisi Matondang mengatakan jika perusahaan Permai Group mengeluarkan dana Rp2,3 miliar untuk diberikan kepada panitia pengadaan alat-alat kesehatan (Alkes) RSUP H Adam Malik Medan tahun 2010.

Hal itu dikatakan Marisi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di rumah sakit tersebut yang merugikan negara Rp14 miliar, Kamis (22/10).

“Soal uang, sepengetahuan saya ada dana yang dikeluarkan permai group Rp2,3 miliar untuk panitia pengadaan di RSUP H Adam Malik. Uang itu dibagi-bagi. Ada panitia yang mendapat Rp500 juta, ada yang mendapat puluhan juta dan lain sebagainya. Yang tahu persis itu Buk Yulianis (bendahara Permai Grup). Beliau yang bagi,” katanya di hadapan majelis hakim yang diketuai Parlindungan Sinaga.

Marisi sendiri bersaksi untuk terdakwa Hasan Basri selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Marwanto Lingga selaku Ketua Panitia Pengadaan. Ia merupakan bawahan dari Nazaruddin, pemilik perusahaan Permai Group sekaligus mantan Bendahara Partai Demokrat yang sekarang telah menjadi narapidana.

Dalam kesaksiannya, ia mengatakan, telah bekerja dengan Nazaruddin sejak 2002. Sebelum pengadaan lelang Alkes di RSUP H Adam Malik di mulai tahun 2010, ia bersama Nazaruddin, Dirut RSUP H Adam Malik, Azwan Lubis, terdakwa Hasan Basri, Marwanto Lingga, Minarsi dan beberapa anggota permai group lainnya pernah melakukan rapat di Hotel Cambridge, Jakarta. Hanya saja dalam pertemuan itu tidak membahas soal pengadaan Alkes. Melainkan membahas persoalan proyek lainnya yang ditangani perusahaan permai group.

“Soal Alkes tidak ada dibahas. Yang dibahas hanya soal proyek pembangunan fisik di RSUP H Adam Malik. Saat itu tidak membahas Alkes karena dianggap telah selesai,’ ucap Marisi.

Ia juga menjelaskan, sebelum lelang dilakukan, anggota Permai Group telah menyiapkan segala persiapan yang akan dilelang. Mulai dari menyiapkan dokumen, perbandingan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan lainnya.  Yang membuat HPS bagian marketing Permai Group, sementara dokumen, ia yang menyiapkan.

“Kalau untuk perusahaannya Pak Nazar yang menentukan. Ia memilih tiga pembanding. Jadi memang sengaja disewa untuk itu. PT Nurafindo juga sengaja dimenangkan. Karena banyak juga perusahaan kita yang sediakan untuk proyek lainnya seperti di USU, Alkes Pangururan dan lainnya,” ucapnya.

Sementara terkait pentrasferan dana Rp43 miliar ke Bank Mandiri Sabang atas nama PT Nurafindo, ia menjelaskan bahwa dana tersebut tidak ada diterima oleh Direktur Nurafindo, Karmin Sinurat. “Karmin tidak mengetahui soal rekening di Bank Mandiri tersebut. Yang membuka rekening itu tim admin Permai Group. Ada Fajar dan lainnya. Begitu juga yang mengambil uangnya di bank,” jelas saksi

Menurutnya, di Bank Mandiri, perusahaan Permai Group sangat dipercaya. “Jadi siapa saja dari kami yang  mengambil uang tidak perlu orang yang bersangkutan yang datang. Makanya Karmin Sinurat tidak mengetahui itu. Uang bisa diambil melalui bagian keuangan. Bagian itu ditempati oleh bu Neneng, isteri dari Nazaruddin,” sebutnya.

Dari Neneng, nanti para direktur tandatangan dan bisa mengambil uang atas nama PT Nurafindo. “Kalau pembicaraan lainnya dengan orang RSUP H Adam Malik itu bagian marketing di Permai Group. Mereka ada bertemu dengan Dirut, Azwan Lubis,” jelasnya.

Usai mendengar keterangan saksi, lalu majelis hakim mempersilahkan kedua terdakwa untuk mengomentari keterangan saksi. Terdakwa Hasan Basri selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Marwanto Lingga selaku Ketua Panitia Pengadaan membantah adanya uang yang hendak dibagi-bagi. "Kalau soal itu tidak ada majelis," ucapnya. Namun keterangan tersebut langsung dijawab saksi yang menyatakan nama-nama yang menerima pun ada dicatat pihaknya. "Bervariasi yang menerima. Seperti mantan dirut Pak Sambas terima Rp 500 Juta," ucapnya. Mendengar pernyataan saksi, hakim anggota Daniel pun terkejut mendengarnya. "Ah, Pak Sambas juga terima ya," tanya hakim Daniel. "Ia Pak," jawab saksi. "Semakin seru sidang ini,"jawab hakim Daniel kembali.

Sebelumnya, JPU juga menghadirkan Musmiarti, Bendahara Pengadaan Alkes. Ia mengatakan telah mentrasfer Rp43 miliar ke rekening Bank Mandiri atas nama PT Nurafindo. Transfer dilakukan dua tahap. Pertama Rp8 miliar lebih dan kedua Rp34 miliar lebih. Hanya saja ia tidak memastikan apakah dana tersebut sampai atau tidak.

Transfer dilakukan Musmiarti karena barang (Alkes) telah diterima. Padahal saat itu ada alat Gama Camera yang telat datang tiga bulan. (A18/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com